Senin, 13 April 2015

lanjutan cerbung (setetes air mata di dasi abu-abu

 cerbung chapter 1

                                                                Secret admirer
    
Khwarizmi berlari secepat mungkn yang ia bisa menjauhi gerbang tinggi bercat hitam itu,sambil sesekali wajah nya menoleh ke belakang untuk memastikan apakah pemilik suara itu membuntuti nya atau tidak.
          jarum jam pagi ini, menunjukan waktu 07.00 khwarizmi masih terlelap di kasur panjang nya itu. Seperti biasa nya sehabis shalat tahajjd lalu menunggu subuh dan melanjutkan shalat subuh di masjid dekat rumah. Itu memang kebiasaan Khwarizmi setiap hari nya. karna umi nya selalu mengancam jikalau ia lalai dalam ibadah nya, beliau tidak segan-segan mengambil semua fasilitas secara paksa.dan wajar saja Khwarizmi melakukan semua kewajiban yang di jadwalkan umi nya setiap pagi buta itu dengan alasan takut semua fasilitas yang ia punya hilang dalam sekejap.
“masyaallah nak ! lihat jam nak… lihat jam” (teriak umi nya dari, dari arah pintu yang sedikit terbuka)
“hmm iya mi,tenang saja khwariz sudah bangun koq” (sahut khwariz berbohong)
tangan kanan khwariz, mengusap wajah kantuk nya lalu mata nya mengerjap-ngerjap melihat jam tangan anti air nya itu yang menempel di tangan kiri nya dan selalu ia pakai dimanana pun itu.
“allamak… !!” (teriak Khwarizmi  spontan setelah melihat jam tangan nya itu)
tidak butuh waktu lama,Khwarizmi menundudukan badan nya lalu secepat kilat bergegas melesat kearah kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu panjang untuk khwariz mempersiapkan diri.
“umi khwariz berangkat dulu ya” (teriak nya dari arah pintu depan)
umi nya yang sudah hafal prihal kegiatan khwariz setiap pagi hanya menggelengkan kepala. Khwariz memang sudah terbiasa telat seperti itu,umi nya juga sudah sering sekali mengingat kan anak lelaki satu-satu nya itu. Namun tetap saja. Ia mengulang kesalahan nya itu dengan tidur lagi sehabis jama’ah di masjid dan membuat khwariz telat untuk kesekiaan kali nya.
                sesampainya di depan gang rumah nya,dengan mata yang membidik setiap mini bus yang berlalu lalang di hadapan nya itu, khwariz merapikan dasi biru dongker yang sebenar nya baik-baik saja dan rapih. Dan beberapa menit kemudian kedua bola mata nya berhenti di mini bus berwarna kuning keemasan. Lalu dengan cekatan ia memberhentikan bus itu dan bergegas naik. Suasana di mini bus sangat pengap,Khwarizmi lebih memilih berdiri di depan pintu mini bus non AC itu,remaja itu terlihat tampan ketika rambut nya terhembus angin yang terlahir karena mini bus yang melesat kencang. Dan tak lama kemudian mini bus berhenti di gerbang tinggi bercat hitam itu.
             khwariz menelan ludah dengan payah. Tangan kanan  ia mainkan dengan cara memasukan dan mengeluarkan nya dari saku celana panjang nya.kelopak mata yang terlihat seperti orang terkejut ketika melihat satpam yang membelakangi nya itu. Dagu Khwarizmi mengeras,,mau tidak mau khwariz harus  masuk kedalam sana dan belajar bersama teman-teman nya. selangkah demi langkah khwariz mendekati gerbang tinggi  itu dengan pasti. Namun belum sempurna langkah nya untuk masuk ke dalam gerbang itu Khwariz memberhentikan langkah nya. Ada suara yang seperti nya memanggil dari satu arah.
“sst.. heh” (suara itu sedikit remang memanggil khwariz).
khwariz menoleh,ke kanan ke kiri tapi tidak ia temukan seorang pun yang memanggil nya
“woi,ane di belakang pohon” (suara itu terdengar lagi, tapi kali ini khwariz menemukan remaja yang sedang berdiri di belakang pohon).
khwariz menatap gerbang bercat hitam untuk kesekiaan kali nya untuk memastikan apakah satpam itu sudah melihat nya apa masih membelakangi nya. dan untung saja satpam itu masih lengah akan keberadaan Khwarizmi yang sebenarnya sedari tadi sedang gugup berdiri beberapa lagkah dari gebang sekolah.tanpa fikir panjang khwariz melangkah mendekati teman sebaya nya yang sepertinya nya nasib yang sama dengan khwariz yaitu “telat”.
“heh ngapain lo disini? Lo telat juga?”
 (Tanya khwariz memulai perbincangan dan mengambil posisi di belakang pohon yang berbeda dengan teman sebaya nya itu).
“hmm iya, tapi ane takut masuk kedalam,emang  ente berani?” (ujar remaja beralis tebal itu)
“ahahahah.. pasti lo baru pertama kali ya telat ? keliatan banget tampang takut nya” (ejek Khwarizmi sambil menepuk bahu teman yang baru ia kenal itu).
 “by the way nama lo siapa? Koq kayak nya wajah lo asing sih?” (lanjut khwariz)
“owh iya nama gue muhammad daffa biasa nya sih di panggil daffa” (sambil menjulurkan tangan kanan nya ke arahh khwariz)
“ bersih gak nih?” (Tanya khwariz sambil menyipitkan mata nya yang tak sipit ke arah tangan daffa)
daffa yang melihat tingkah Khwarizmi mengerinyitkan dagu.
“kidding kali, serius banget” (bisik khwariz )
 mereka berdua pun saling bertukar senyum,dan melupakan masalah mereka yang sebenar nya telat masuk sekolah.dan tanpa mereka sadari mereka sedang di perhatikan oleh seseorang.
“hai nak,itu siapa yang berdiri di belakang pohon” (seru seseorang yang memiliki suara yang lumayan berat)
khwariz dan fadlan saling melihat satu sama lain, tanpa fikir panjang mereka berdua mengambil seribu langkah alias berlari dan melangkah jauh dari tempat persembunyiaan nya yang sudah di ketahui oleh pemilik suara berat itu. Fadlan melihat seseorang yang memanggil mereka tadi dan tersenyum kecil lalu merangkul khwariz dengan cekatan. Khwariz berlari secepat mungkin yang ia bisa ,menjauhi gerbang tinggi bercat hitam itu sambil sesekali wajah nya menoleh kebelakang untuk memasitkan apakah sang pemilik suara Itu membuntuti nya atau tidak.



2 komentar: